Presiden Iran Ebrahim Raisi pada hari Minggu meminta Tokyo untuk melepaskan dana Iran yang telah dibekukan di Jepang karena sanksi AS terhadap program nuklir Teheran.

“Penundaan pelepasan aset Iran yang ada di bank-bank Jepang tidak dapat dibenarkan,” kata Raisi kepada Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi yang sedang berkunjung ke Tokyo.

Jepang dan sebagian besar Korea Selatan adalah pengekspor utama teknologi, dan memegang miliaran dolar aset Iran.

Dana tersebut telah dibekukan sejak mantan presiden AS Donald Trump menarik Washington dari kesepakatan nuklir antara Iran dan kekuatan dunia dan menerapkan kembali sanksi terhadap Teheran pada 2018.

Sementara itu Joe Biden, Presiden AS yang sekarang menjabat, mengatakan ia akan mengembalikan AS pada pembahasan kesepakatan nuklir yang dinegosiasikan ketika masa pemerintahan Presiden Barack Obama dan akan menarik sanksi jika Iran bisa mematuhi kesepakatan nuklir.

Biden juga mengatakan kepada New York Times tahun lalu bahwa “ini akan sulit. Namun membangun kemampuan nuklir adalah hal terakhir yang kita butuhkan di bagian dunia”.

Washington mengatakan pada pertengahan Juli bahwa mereka mengizinkan Iran untuk menggunakan dana yang dibekukan untuk melunasi utang di Korea Selatan dan Jepang, tetapi bersikeras bahwa itu tidak mengizinkan apapun untuk ditransfer ke Teheran.

Pembicaraan antara Iran dan kekuatan dunia, di mana AS secara tidak langsung terlibat, yang bertujuan untuk menghidupkan kembali kesepakatan 2015 telah terhenti sejak akhir Juni. Dan sebenarnya kesepakatan yang ditandatangani oleh China, Prancis, Jerman, Rusia, Inggris dan AS itu dirancang untuk membatasi program nuklir yang dilakukan oleh Iran dengan imbalan keringanan sanksi.

Mentri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi tiba di Teheran Minggu pagi setelah mengunjungi Turki dan Irak selama tur regional, dan dia juga akan pergi ke Qatar.

Setelah bertemu dengan Raisi, dia mengatakan bahwa selama kunjungannya dia telah membahas situasi di Afghanistan setelah penaklukan Kabul yang dilakukan oleh Taliban.

Dia mengatakan dia setuju dengan Iran, Turki dan Irak mengenai pentingnya bekerja sama dalam hal menghindari Afghanistan menjadi “faktor destabilisasi lebih lanjut”.