Qudsngo – Presiden Ebrahim Raisi mengatakan Iran mengecam “unilateralisme” Amerika Serikat, dan menginginkan hubungan yang lebih dekat dengan tetangga regionalnya, karena negaranya telah menjadi anggota penuh Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) yang berpengaruh.

Bagi kalian yang belum tahu, unilateralisme adalah doktrin atau agenda yang mendukung terjadinya tindakan secara sepihak. Tindakan tersebut biasanya muncul dari pihak lawan yang tidak suka dengan kelompok tertentu yang berada di dalam suatu organisasi.

Pada hari Jumat kemarin, Iran mengatakan bahwa mereka telah diterima sebagai anggota penuh kedelapan dalam SCO pada konferensi tahunan yang diselenggarakan di ibukota Tajikistan, Dushanbe. Pejabat senior dari negara China, Rusia, India, Pakistan, Tajikistan, Uzbekistan, Kirgistan, dan Kazakhstan juga hadir yang merupakan anggota penuh lainnya.

Selama 15 tahun Iran telah menjadi pengamat dan meminta keanggotaan penuh agar membantu meningkatkan ekonomi dan kedudukan regionalnya.

Dalam pidatonya di KTT (Konferensi Tingkat Tinggi), Presiden Raisi mengutarakan tujuan kebijakan luar negerinya yang utama, yaitu agar dapat memperluas hubungan politik, ekonomi dan budaya dengan negara-negara yang ada di kawasan Timur Tengah dan berharap dapat melindungi Iran terhadap hukuman sepihak dari Barat.

Raisi juga mengatakan bahwa posisi geopolitik, populasi, pasokan energi, potensi transportasi, tenaga kerja dan budaya Iran dapat memberi “momentum” untuk rencana regional utama, termasuk Belt and Road Initiative China.

“Dunia telah memasuki era baru. Hegemoni dan unilateralisme gagal. Keseimbangan internasional bergerak menuju multilateralisme dan redistribusi kekuasaan untuk kepentingan negara-negara merdeka.” sambungnya.

Presiden Raisi juga menyebutkan bahwa “sanksi atau terorisme ekonomi” merupakan rintangan utama bagi kemajuan regional, dan meminta negara-negara yang berada dalam anggota SCO untuk mengembangkan struktur dan mekanisme untuk melawan sanksi sebagai sebuah kelompok.

“Sanksi sepihak tidak hanya terhadap satu negara,” katanya. “Seperti yang telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, dimana sanksi hanya menargetkan negara-negara independen, terutama yang berada dalam anggota organisasi.”

Iran telah berada di bawah sanksi keras AS sejak 2018, ketika mantan Presiden Donald Trump secara sepihak menarik negaranya dari kesepakatan nuklir 2015 yang ditandatangani antara Iran dan kekuatan dunia.

Raisi mengatakan dia memandang diplomasi sebagai alat untuk mengamankan kepentingan nasional ketika ditanya mengenai kesepakatan nuklir. Tapi dia mengatakan hal itu akan efektif ketika semua negara SCO mematuhinya.

“Sayangnya, beberapa negara percaya bahwa mereka dapat mengubah diplomasi menjadi keuntungan mereka dengan menggunakan alat ancaman dan tekanan,” kata Raisi dalam pesan terselubung lainnya kepada AS.

Beberapa hari setelah kekuatan Eropa kembali meminta Iran untuk mengurangi program nuklirnya pada akhir konferensi terbaru Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Raisi mengatakan tidak ada yang dapat menghentikan kegiatan nuklir “damai” Iran,

Raisi juga mengatakan bahwa pandemi COVID-19, terorisme, lingkungan, keamanan siber, dan kejahatan terorganisir merupakan tantangan lain yang harus dihadapi anggota SCO dan berharap dapat ditangani secara bersama-sama.

Presiden Iran mengadakan serangkaian pembicaraan tingkat tinggi dengan rekan-rekan SCO-nya, termasuk pertemuan bilateral dengan beberapa kepala negara, dan pertemuan multilateral tentang Afghanistan setelah mendarat di Dushanbe pada hari Kamis yang lalu.

Presiden Raisi juga memiliki jadwal untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, tetapi keduanya sepakat untuk mengundur pertemuan itu, dikarenakan orang-orang yang berada dalam lingkaran Putin dinyatakan positif terkena virus corona dan harus dikarantinakan untuk sementara.