Qudsngo.com – Sejarah berdirinya Kerajaan Arab saudi memiliki tiga fase, Mulai dari Terbentuknya Kerajaan Saudi yang pertama, hingga yang ketiga (sekarang).

Arab Saudi  merupakan negara paling luas di Jazirah Arab yang terkenal sebagai salah satu negara eksportir minyak bumi terbesar di dunia. Selain itu, negara dengan bentuk pemerintahan monarki ini juga sangat kondang seantero dunia karena terdapat dua kota Makkah dan Madinah. Kedua kota ini sangat disucikan dalam agama Islam. Setiap tahun terutama dalam musim haji, dua kota ini dipadati umat Islam dari seluruh penjuru dunia.

Arab Saudi secara resmi dikenal sebagai Kerajaan Arab Saudi atau Kingdom of Saudi Arabia (KSA), adalah sebuah negara Arab di Asia Barat yang mencakup hampir keseluruhan wilayah Semenanjung Arabia. Dengan luas wilayah kira-kira 2150000 km2 (830000 sq mi), Arab Saudi secara geografis merupakan negara terbesar ke lima di Asia dan kedua terbesar di Dunia Arab setelah Aljazair.

Arab Saudi berbatasan langsung dengan Yordania dan Irak ke utara, Kuwait ke timur laut, Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab ke timur, Oman ke tenggara, dan Yaman ke selatan. Negara ini terpisah dengan Israel dan Mesir oleh Teluk Aqaba. Negara ini adalah satu-satunya negara yang memiliki dua pesisir penting, yakni Laut Merah dan Teluk Persia, dan sebagian besar wilayah Arab Saudi merupakan gurun pasir. (sumber : wikipedia)

Kerajaan Arab Saudi yang kita kenal saat ini baru terbentuk pada 23 September 1932. Namun sebenarnya jika ditelusuri, awal abad ke-18 telah muncul negara Saudi pertama. Berikut sejarah berdirinya kerajaan Arab Saudi.

 

Terbentuknya Negara Saudi pertama

Seorang ulama bernama Muhammad bin Abdul Wahhab mengajarkan pemahaman pemurnian agama. Karena banyak yang menentangnya, Abdul Wahhab mencari perlindungan. Dia lantas menjalin aliansi dengan pemimpin lokal bernama Muhammad bin Saud sejak 1726.

Dikutip dari Encyclopedia Britannica, koalisi ini berkembang pesat terutama soal ekspansi militer. Satu per satu musuh ditaklukkan. Saat Abdul Aziz menggantikan ayahnya Muhammad bin Saud yang mangkat pada 1765, aliansi dengan Abdul Wahhab tetap terjaga. Bahkan Abdul Wahhab berperan besar sebagai pengendali administrasi sipil negara tersebut.

Abdul Aziz sendiri didampingi putranya Saud, memilih melakukan ekspansi ke kota-kota lainnya. Pada 1788, negara Saudi ini menguasai wilayah dataran tinggi Najd. Abdul Wahhab wafat empat tahun kemudian. Namun kekuasaan aliansi ini sudah meluas sampai ke sebagian besar Semenanjung Arab, termasuk Makkah dan Madinah.

Popularitas dan keberhasilan aliansi ini mengusik Kekaisaran Ottoman, kekuatan dominan di Timur Tengah dan Afrika Utara pada saat itu yang berpusat di Konstantinopel (Istanbul), Turki. Pada tahun 1818, Ottoman mengirim pasukan ekspedisi besar yang dipersenjatai dengan artileri modern ke wilayah barat Arab.

Tentara Ottoman mengepung Diriyah dan menghancurkan kota tersebut. Pemimpinnya Abdullah bin Saud ditangkap kemudian dibawa ke Konstantinopel untuk dieksekusi mati.Keluarga Saud tercerai berai. Ada yang melarikan diri, sementara sisanya dikirim ke penjara Mesir bersama keturunan Abdul Wahhab.

 

Terbentuknya Negara Saudi kedua

Dinasti Saud berhasil pulih kemudian mendirikan negara Saudi kedua ketika pada 1824 cucu Muhammad bin Saud bernama Turki berhasil merebut Riyadh dan mengusir garnisun Mesir. Sejak itu, Riyadh menggantikan Diriyah sebagai ibu kota negara. Dinasti Saud berhasil merebut kembali beberapa kota. Turki juga berhasil mengembangkan sektor pertanian, perdagangan, dan sastra.

Namun Turki hanya memerintah satu dekade saja. Dia dibunuh oleh sepupunya yang ambisius. Anak Turki bernama Faisal balas dendam dengan meracun pembunuh ayahnya itu. Ottoman kembali mengusik negara ini pada 1865 yang dipimpin anak Faisal bernama Abdulrahman. Kali ini Ottoman menyokong keluarga Al Rashid di Hila untuk menggulingkan negara Saudi.

Menghadapi lawan yang lebih kuat, Abdulrahman bin Faisal Al-Saud terpaksa mundur pada 1891. Dia mencari perlindungan dengan suku-suku Badui di padang pasir luas di Arabia timur. Dari sana, Abdulrahman dan keluarganya termasuk putranya Abdulaziz melakukan perjalanan ke Kuwait. Mereka tinggal di sana sampai tahun 1902.

 

Berdirinya Kerajaan Arab Saudi modern (yang sekarang)

Abdulaziz muda, bertekad merebut kembali warisan keluarganya dari Al-Rashid yang telah mengambil alih Riyadh. Dalam usia 22 tahun, pada 15 Januari 1902 dengan ditemani 40 pengawal Abdulaziz bergerak menuju Riyadh. Dia berhasil merebut Benteng Masmak dan mengumpulkan pendukung lama dinastinya. Peristiwa legendaris ini menandai awal pembentukan negara Arab Saudi modern.

Saat Perang Dunia I (1914-1918), Abdulaziz memutuskan berkoalisi dengan Inggris. Keduanya punya kepentingan yang sama menumbangkan Kekaisaran Ottoman. Setelah Ottoman runtuh, Abdulaziz menguasai seluruh Najd dan Hijaz, termasuk Makkah dan Madinah, pada tahun 1924 hingga 1925.

Dalam prosesnya, dia menyatukan suku-suku yang bertikai menjadi satu bangsa. Pada 23 September 1932, negara tersebut dinamai Kerajaan Arab Saudi, negara Islam dengan bahasa Arab sebagai bahasa nasionalnya dan Alquran sebagai konstitusinya. Abdulaziz memerintah Kerajaan Arab Saudi sampai tahun 1953.

Setelah Abdulaziz wafat, Arab Saudi berturut-turut dipimpin Raja Saud, Raja Faisal, Raja Khalid, Raja Fahd, Raja Abdullah, dan Raja Salman yang memerintah sejak 2015.