Qudsngo.com – Pada hari Sabtu, koalisi Irak menolak seruan untuk normalisasi dengan Israel yang dibuat pada sebuah konferensi di Erbil, ibu kota wilayah Kurdi di Irak utara.

Lebih dari 300 pria dan wanita Irak menghadiri konferensi di sebuah hotel di Erbil, ibu kota wilayah Kurdistan, di mana mereka menuntut agar Baghdad bergabung dengan apa yang disebut Kesepakatan Abraham dan menormalkan hubungannya dengan Israel.

Kesepakatan Abraham ditandatangani di Gedung Putih pada September 2020 antara Israel, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Maroko dan Sudan kemudian menandatangani perjanjian normalisasi dengan rezim Israel juga.

Konferensi hari Jumat diselenggarakan oleh Pusat Komunikasi Perdamaian yang berbasis di New York, dan disambut oleh Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid sebagai “acara yang penuh harapan”.

“Kami mengutuk dan menolak konferensi, pertemuan, dan seruan untuk normalisasi dengan entitas Zionis perampas yang diadakan di Irak,” kata Ammar al-Hakim, kepala Aliansi Kebijaksanaan Nasional Syiah dalam sebuah pernyataan.

Aliansi ini memegang 19 dari 329 kursi di parlemen Irak.

Al-Hakim mengatakan masalah Palestina adalah masalah utama Arab dan Muslim yang akan terus didukung oleh aliansinya.

“Kami memperbarui dukungan penuh kami untuk rakyat Palestina dan tujuan mereka yang adil dan perjuangan mereka untuk memulihkan hak mereka yang dirampas,” kata al-Hakim.

Di lain sisi, konferensi perdamaian yang diadakan di Erbil oleh beberapa tokoh suku Sunni dan Syiah yang menyerukan normalisasi hubungan antara Irak dan Israel.

“Kami adalah perkumpulan Sunni dan Syiah, yang terdiri dari anggota Gerakan Kebangkitan Sunni Putra Irak, serta para intelektual, pemimpin suku, dan pemuda aktif dari gerakan protes 2019-2021,” demikian pernyataan peserta konferensi.

Ia menambahkan, “Kami menyerukan Irak untuk menjalin hubungan dengan Israel dan rakyatnya melalui perjanjian yang serupa dengan negara-negara Arab yang telah dinormalisasi.”

Pernyataan itu mengatakan bahwa pihaknya terus menentang semua jihadis Sunni dan ekstremis Syiah yang didukung Iran.

Namun di sisi lain, koalisi Irak lainnya jelas menolak seruan tersebut. Mereka menganggap normalisasi dengan Israel hanya akan mengkhianati Palestina sebagai sesama negara muslim.

Pihak berwenang di Baghdad dan Erbil belum mengomentari pernyataan konferensi tersebut.

Irak tidak memiliki hubungan dengan Israel dan gagasan normalisasi ditolak secara luas di negara itu.

Tahun lalu, empat negara Arab (UEA, Bahrain, Sudan, dan Maroko) menormalkan hubungan mereka dengan Israel, sebuah langkah yang dikecam oleh Palestina sebagai pengkhianatan terhadap tujuannya.